Main Article Content

Abstract

The purpose of the study was to measure students’ mathematical literacy achievement at secondary education level on the international test design adjusted to the context of Indonesia, and to analyze factors affecting the achievement. In addition, to conducting test, the survey was also administered to obtain data on the test participant students, maths teachers, and their educational background. Sampling was done by using a multi-stage stratified random sampling. This research revealed that the literacy achievement of students was still low, but the disparity of literacy achievement among cities was varied. Student literacy achievement in Yogyakarta was relatively evenly compared to other cities. Uncertainty and data is the most easily content compared to other mathematical contents. Examined from the aspect of context, scientific is the lowest achieved by students.The test items that measure higher order thinking skills (HOTS) had not been well mastered by students. There are number of determinants of mathematics literacy achievement, namely personal factor, instructional factor, and environmental factor. The conclusion of the study is students’ mathematical literacy at secondary educationlevel was still low, although the design of international test used had been adjusted by the Indonesian context.


ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur capaian literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan desain tes internasional yang disesuaikan dengan konteks Indonesia, serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi capaian literasi tersebut. Di samping melakukan tes kepada siswa SMA/MA, survei juga dilakukan untuk memperoleh data siswa peserta tes, guru matematika, dan latar belakang pendidikan. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik multi-stage stratified random sampling. Hasil penelitian mengungkapka capaian literasi siswa masih rendah, namun disparitas capaian literasi antarkota cukup bervariasi. Capaian literasi siswa Yogyakarta relatif merata dibandingkan dengan kotakota lainnya. Uncertainty and data merupakan konten yang paling mudah dibandingkan dengan konten matematika lainnya. Dikaji dari aspek konteks, scientific merupakan konteks yang paling rendah dicapai siswa. Adapun soal-soal tes yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills-HOTS) belum mampu dikuasai siswa dengan baik. Terdapat sejumlah faktor determinan dari capaian literasi matematika tersebut, yaitu faktor personal, faktor instruksional, dan faktor lingkungan. Kesimpulan studi adalah literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah masih rendah, meskipun desain tes internasional yang digunakan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia.

Article Details

How to Cite
--, M., & --, R. (2014). Literasi Matematika Siswa Pendidikan Menengah: Analisis Menggunakan Desain Tes Internasional dengan Konteks Indonesia. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 20(4), 452-469. https://doi.org/10.24832/jpnk.v20i4.158

References

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud. 2013. Laporan Studi Kajian Peserta Didik pada Tingkat Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan.
  2. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sekretariat Jenderal.
  3. Kern, R. 2000. Literacy and Language Teaching. Oxford: Oxford University Press.
  4. Hanushek, E. A. & Wößmann, L. 2007. “The Role of Education Quality in Economic Growth.” World Bank Policy Research Working Paper No.4122. Public Discussion Authorization.
  5. Moretti, G. A. S. & Frandell, T. 2013. Literacy from a Right to Education Perspective. Report of the Director General of UNESCO to the United Nations General Assembly 68th Session.
  6. OECD. 2013. PISA 2012 Results: What Students Know and Can Do: Student Performance in Mathematics, Reading and Science. (Volume 1). Paris: PISA- OECD Publishing.
  7. Peterson, K. D. “Is Your School’s Culture Toxic or Positive?” Education World. http://www.educationworld.com/a_admin/admin275.shtml. diakses 24 Nopember 2014.Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud. 2012a. Determinants of Learning Outcomes TIMSS 2011 : Final Report. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud. 2012b.
  8. Kemampuan Membaca Siswa Kelas IV Sekolah Dasar di Provinsi Kalimantan Timur dan D.I. Yogyakarta. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan. Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud. 2013a. Laporan Review Hasil-hasil Penelitian TIMMS, PIRLS, PISA, Studi Penggunaan Waktu, dan Sertifikasi (BERMUTU). Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan.
  9. Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud. 2013b. Laporan Kompetensi Guru dan Prestasi Siswa Sebagai Dampak Dana Bantuan Langsung BERMUTU kepada KKG/MGMP. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan.
  10. Simanjuntak, H. 2013. “Kontribusi Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Persamaan Kuadrat pada Siswa SMAN 1 Pangkal Pinang.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 19 (1), hlm. 94-106.
  11. Stacey, K. 2011. “The PISA View of Mathematical Literacy in Indonesia,” IndoMS. J.M.E. 2 (2), hlm. 95-126.
  12. Umar, J & Miftahuddin. 2012. Analisis Prestasi Matematika pada TIMSS Tahun 2011. Makalah disampaikan pada Seminar Kebijakan Penilaian Pendidikan Berbasis Kajian Sebagai Umpan Balik Kegiatan Belajar Mengajar untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan yang diselenggarakan oleh Puspendik, Kemdikbud pada tanggal 7-8 Desember 2012 Di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat.
  13. UNESCO. 2014. Literacy for All. http://en.unesco.org/themes/literacy-all. diakses 12 Juni 2014.
  14. Wells, G. 1987. “Apprenticeship in Literacy.” Interchange, 18, (1/2) (Spring/Summer), hlm. 109-123.
  15. Wikipedia. “Higher-order thinking.” The Free Encyclopedia. http://en.wikipedia.org/ wiki/Higherorder_thinking), diakses tanggal 31 Oktober 2014.